Seperti diketahui, sampah plastik menjadi tantangan besar global, karena dampaknya berpotensi menjadi ancaman terhadap keberlanjutan lingkungan. Meskipun produksi dan pemakaian plastik telah dikurangi, limbah plastik tetap menjadi simbol buruk bagi kehidupan di Bumi.

Sebagai sekolah Adiwiyata, UPT SMP Negeri 4 Pringsewu  peduli terhadap lingkungan. Sebagai upaya untuk mengurangi limbah plastik, UPT SMP Negeri 4 Pringsewu mengadakan program ecobrick. Program ini sebenarnya pernah dilaksanakan tetapi mengalami mati suri akibat terdampak pandemi covid-19.

Program ini dilaksanakan dengan melibatkan seluruh murid dari kelas 7, 8 dan 9 dengan bimbingan dari guru-guru bidang studi prakarya yang bekerja sama dengan kelompok kerja (Pokja) pengolahan sampah anorganik. Setelah ecobrick yang dibuat oleh setiap murid, seluruh anggota pokja pengolahan anorganik membuat berbagai produk kreasi yang berasal dari ecobrick diantaranya adalah penyangga pot.

Ecobrick sebagai salah satu contoh kreasi kerajinan yang terbuat dari limbah plastik atau sampah plastik yang revolusioner dimana manfaatnya sangat besar bagi kehidupan manusia. Ecobrick menjadi salah satu solusi di tengah kebuntuan pengelolaan limbah plastik. Selain menjadi solusi pengelolaan limbah plastik, inovasi ini juga memberikan manfaat yang beragam, baik secara fungsional maupun ekonomis.

Ide ini tercetus dari pasangan suami istri Russel Maier asal Kanada dan Ani Himawati Maier asal Indonesia, mereka menciptakannya di Filipina. Saat ini, ekobrik sangat populer secara global dan dikenal juga dengan sebutan “Bottle Brick” atau “Ecoladrillo.”

By SULISTY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *